loading...

Tuesday, 21 March 2017

Pemimpin Pemaaf, Meneladani Rasulullah

loading...
loading...

Pemimpin Pemaaf, Meneladani Rasulullah, - Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS 7: 99).

Dalam tafsir Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim serta kitab-kitab lain diriwayatkan bahwa ketika ayat di atas diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, beliau minta malaikat Jibril menafsirkan ayat tersebut. Jibril menjawab, ''Tunggulah sebentar, aku akan bertanya kepada Yang Maha Mengetahui.''

Setelah kembali, Jibril berkata, ''Wahai Muhammad, Allah memerintahkan kepadamu agar engkau menyatukan dirimu dengan orang yang telah memutus hubungan denganmu, dan agar kamu memberi kepada orang yang tidak mau memberimu, dan agar kamu memaafkan orang yang telah menganiaya kamu.''

(Qadi 'Iyad Ibn Musa al Yahsubi, Sirah Muhammad Rasulullah saw Junjungan Ummat, Buku Pertama, hlm 113-115).

Dalam menyampaikan ajaran Islam selama 23 tahun tugas kenabiannya, Muhammad saw sangat sering menghadapi penolakan dari masyarakatnya. Dia tidak hanya dicaci-maki dan difitnah, melainkan juga dikucilkan, diembargo secara ekonomi, diperangi, dikejar-kejar, bahkan jadi target pembunuhan. Namun, Muhammad saw menghadapi semua itu dengan tenang, sabar, tabah, dan selalu mohon pertolongan dan petunjuk Allah. Bahkan, dia pun mendoakan kaumnya yang menolak dan memusuhi risalah yang dibawanya.

Diriwayatkan bahwa ketika gigi Nabi patah dan wajahnya terluka pada Perang Uhud, para sahabat jadi emosi. Mereka berkata, ''Hanya engkaulah yang berhak melancarkan kutukan terhadap mereka.'' Namun apa sahut Nabi? ''Aku diutus sebagai penyeru dan pembawa rahmat. Ya Allah, tunjukilah kaumku lantaran mereka tidak mengetahui.''

Sifat pemaaf Nabi juga sangat menonjol ketika beliau memaafkan bahkan mendoakan kaum Thaif yang menolak seruan dakwahnya, mengusirnya, serta melemparinya dengan batu sehingga berdarah. Dalam riwayat lain disebutkan Nabi memaafkan seorang perempuan Yahudi yang berusaha meracuninya dengan memasukkan racun ke dalam daging biri-biri yang dihidangkan kepada beliau.

Puncak sifat pemaaf itu adalah ketika Nabi Muhammad saw dengan tangannya yang mulia dan perkataannya yang lemah lembut membebaskan pasukan kafir Quraisy yang telah jadi pecundang pada penaklukan kota Mekah. ''Pulanglah, kalian kumaafkan,'' demikian tutur Rasulullah kepada orang-orang yang selama belasan tahun telah memusuhinya.

Sesungguhnya teguh hati, tabah, dan pemaaf merupakan bagian dari akhlak Rasulullah Muhammad. Sifat-sifat agung tersebut diteladani oleh para pemimpin Muslim setelah Muhammad saw wafat, baik kalangan khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali) maupun khalifah-khalifah sesudahnya.

Zaman reformasi yang datang ke Indonesia sejak pertengahan 1998 membawa angin kebebasan dan demokrasi yang sering ditafsirkan secara berlebihan oleh sebagian anggota masyarakat. Tidak jarang sekelompok orang mengkritik, mencaci-maki, bahkan memfitnah pemimpinnya -- dari tingkat rendah sampai presiden -- secara tidak proporsional dan bertanggung jawab. Namun, seorang pemimpin Muslim tidak boleh gampang terpancing dan terjebak oleh provokasi seperti itu.

Semoga Allah SWT menganugerahi kita pemimpin yang pemaaf. Yakni, pemimpin yang saleh, sabar, dan pemaaf menghadapi rakyatnya. Sungguh, Dia adalah Sebaik-baik Pemberi.
Pemimpin Pemaaf, Meneladani Rasulullah

loading...