loading...

Tuesday, 21 March 2017

Merajut Benang Tali Ukhuwah Islamiyah

loading...
loading...

Merajut benang tali ukhuwah islamiyah,- “Suatu saat umat Islam  akan jadi santapan lezat yang siap dilahap musuh-musuhnya. Mereka dikerumuni oleh kaum kuffar dalam keadaan tak berdaya.” Begitu kurang lebih sabda Rosulullah yang disampaikan di hadapan para sahabat. Mendengar pernyataan itu, para sahabat bertanya, “Apakah ketika itu jumlah kaum muslimin sedikit, ya Rosulullah?” “Tidak, bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak. Tapi bagai busa yang berada di samudera. Sekali tiup habis tak bersisa. Itu, lantaran pada diri kalian dihinggapi satu penyakit al-wahn,” jawab Rosulullah. Para sahabat kian penasaran, “Apa yang dimaksud dengan al-wahn itu ya Rosulullah?” tanya mereka. Nabi menjawab, “Cinta dunia, dan takut mati!”

Dialog Rasul dan para sahabat di atas barangkali merupakan jawaban mengapa kita selalu diperdaya dan jadi bahan permainan lawan? Kalau kita perluas makna al-wahn dalam konteks kekinian, sungguh sangat relevan. Umat Islam sulit bersatu karena banyak yang lebih mementingkan hawa nafsu duniawi. Merasa benar sendiri dan orang lain salah terus, hanya kelompoknya saja yang benar, rakus harta, gandrung kekuasaan, tapi takut risiko. Semua ini jelas merupakan penghalang persatuan.
merajut benang tali ukhuwah islamiyah

Dalam Islam, persatuan adalah kewajiban sedang perpecahan itu dosa. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan Islam. Dan berpegang teguhlah kamu ke dalam tali Allah dan jangan bercerai berai ...” (QS. Ali Imron: 103-104). Lalu ayat selanjutnya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran: 105-106)

Rangkaian ayat di atas menegaskan, kebaikan seseorang secara pribadi maupun secara kolektif sama-sama memerlukan ukhuwah. Pada ayat pertama, setelah diperintahkan untuk bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa, umat Islam diperintahkan untuk berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan bercerai-berai. Lalu pada ayat kedua, setelah berbicara tentang tugas berdakwah secara kolektif, maka larangan untuk bercerai berai itu lebih ditegaskan lagi.

Sunnah Rosulullah juga banyak berbicara tentang urgensi persatuan dan kesatuan itu. Misalnya hadits yang diriwayakan oleh Imam Bukhari, “Janganlah saling membenci, saling iri hati saling membuat makar. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak boleh seorang muslim menghindari saudaranya di atas tiga hari.”

Persatuan umat, tidak berarti menghapuskan perbedaan pendapat. Karena perbedaan termasuk bagian dari sunnatullah yang tak mungkin berubah. Dalam istilah DR. Yusuf Qardhawi, perbedaan dalam Islam itu hanya merupakan ikhtilafutanawwu’ (perbedaan variatif) dan bukan ikhtilafut tadhadh (perbedaan yang bersifat pertentangan). Ia menambahkan, perbedaan yang bersifat variatif ini senantiasa merupakan sumber “kekayaan”, bahkan menjadi salah satu ayat Allah menunjukkan keagungan kekuasaan-Nya dan keindanan kebijaksanan-Nya.

Lalu, bagaimana cara menggalang persatuan umat? Ada beberapa sikap dasar yang harus dimiliki kaum muslimin. Pertama, perlu adanya keikhlasan hati. Tanpa itu, persatuan umat secara organisasi atau lembaga hanya semu belaka. Allah swt: “Andai kau infakkan semua apa yang ada di muka bumi (untuk mempersatukan mereka), niscaya kalian tidak akan mampu untuk mengikat hati mereka. Allah lah yang menyatukan hati mereka.” (QS.Al-Anfal:63)

Banyak kasus perpecahan yang terjadi, secara lahir terlihat sebagai dampak perselisihan pendapat. Padahal sebenarnya perselisihan itu muncul karena faktor egois dan memperturutkan hawa nafsu. Akibatnya, dalam mempertahankan suatu pendapat, orang bisa melakukan kecaman yang pedas dan berlebihan terhadap yang tidak sependapat.

Kedua, meninggalkan fanatisme baik bersifat individu, mazhab atau golongan. Sikap fanatik buta itu dikecam oleh Allah. Seperti dalam firman-Nya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami,” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)

Dalam masalah Fiqh, para ulama dan salafushalih berusaha untuk menjauhkan diri dari sikap fanatik. Mereka lebih mengutamakan kebenaran, meski kebenaran itu tidak datang dari dirinya. Imam Syafi’i, misalnya, mengatakan, “Demi Allah, aku tidak peduli apakah kebenaran itu nampak melalui lidahku atau melalui lidah orang lain.”

Ketiga, menumbuhkan prasangka baik kepada orang lain. Allah melarang hamba-Nya untuk merasa suci sementara orang lain selalu keliru dan kotor. Dalam firman-Nya, Allah swt menjelaskan,”Dan Dia lebih mengetahui tentang kamu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa” (QS. An-Najm: 32) Karenanya, menurut para salafusshalih, berprasangka baik kepada Allah dan kepada manusia merupakan cabang keimanan yang terbesar.

Keempat, tidak menyakiti dan mencela pihak lain. Banyak contoh dari ulama dahulu bagaimana mereka meretas persatuan dan persaudaraan. Salah satunya, surat ilmiah yang mengagumkan yang pernah dikirimkan oleh seorang ulama fiqih besar dari Mesir, Al-Laits bin Sa’ad kepada Imam Malik. Dalam surat itu ia mengemukakan pandangannya dengan bahasa yang sopan dan halus tentang berbagai masalah yang diperselisihkannya dengan Imam Malik. Di antara isi surat itu, “Amma ba’du. semoga Allah memaafkan kami dan Anda serta memberikan balasan yang baik di dunia dan akhirat. Saya bergembira telah menerima surat Anda yang mengabarkan bahwa Anda dalam keadaan baik. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan kesejahteraan tersebut kepada Anda dan menyempurnakannya dengan memberikan pertolongan untuk mensyukurinya. Sesungguhnya telah sampai berita kepada Anda bahwa saya telah berfatwa kepada masyarakat dengan beberapa fatwa yang bertentangan dengan yang dianut oleh masyarakat di tempat Anda. Saya merasa takut pada diri saya sendiri dengan adanya orang-orang yang berpegang kepada apa yang saya fatwakan, karena masyarakat telah mengikuti para penduduk Madinah yang sama-sama kita ketahui bahwa di sanalah tempat hijrah dan turunnya Al-Qur’an. Apa yang telah Anda tulis tentang hal tersebut insya Allah benar dan saya sangat menghargainya. Tidak ada seorang ulama yang lebih membenci fatwa yang ganjil (menyalahi jumhur). Tidak ada orang yang lebih mendukung fatwa-fatwa mereka apabila mereka telah bersepakat, selain daripadaku. Segala puji bagi Allah. Penguasa Alam semesta, tidak sekutu bagi-Nya.” Setelah itu Al-Laits melanjutkan suratnya dengan mengemukakan sebab-sebab perbedaan pendapat antara dirinya dan Imam Malik.

loading...