loading...

Wednesday, 15 March 2017

Review Sony Alpha NEX-F3

loading...
loading...

NEX-F3 adalah penerus langsung C3 yang dipertontonkan Sony tahun lalu dan saat ini menduduki peringkat bontot di kerajaan NEX. Harganya sama dengan C3, sekitar tujuh jutaan dengan lens kit 18-55 mm tetapi menyajikan beberapa upgrade signifikan daripada versi sebelumnya. katakan saja fitur yang merekam video 1080p, LCD yang bisa operasikan sampai 180 derajat bila ingin take foto selfie, beserta sensor kamera 16 MP.

Dengan dimensi 4,6 x 2,6 inci, F3 yang mana mempunyai ukuran lebih besar serta tebal sedikit dibandingkan C3 dengan begitu tidak ramah saku (serta malah akan bertambah kala lensa dipasang). Walaupun begitu, F3 tetap gampang dimasukan ke tas tanpa harus merasa membebani. Sony memiliki alasan yang baik untuk ketebalan ekstra itu: area grip yang lebih besar bakal membuat kamera lebih gampang digenggam dan dipakai dengan satu tangan pun. Maklum saja, kamera berukuran mungil biasanya lebih sukar digenggam daripada DSLR yang bertubuh besar jadi tambahan berat di F3 begitu membantu untuk meraih genggaman yang mantap.

Review Sony Alpha NEX-F3

Sebagaimana kamera NEX umumnya, sedikit tombol yang dapat dijumpai di F3. Malah beberapa elemen point-and-shoot umum (diantaranya mode Dial) juga bisa absen. Tombol daya terdapat di sebelah atas, sejajar dengan port aksesori (ada di balik tutup plastik), dan pop-up flash serta tombol flash. Flash-nya seperti yang ada di NEX-7 dan beroperasinya baiknya. Anda dapat arahkan ke atas atau bawah dan patulkan kemana pun. Pada belakangnya terlihat layar LCD 3 inci yang dapat diputar sapai 180 derajat untuk layanan kilat selfie. Selain itu, F3 pun bakal otomatis menghidupkan timer 3 detik ketika mendeteksi LCD menghadap arah depan. Alhasil, Anda pun dapat mengadakan persiapan dulu sebelum kamera betul betul memebidik.

Antarmuka pemakai NEX hanya sedikit yang berubah dari muali diperkenalkan pertama kali. F3 masih membawa antarmuka dengan jejeran ikon warna-warni yang tersusun apik dan gampang dipakai. Tetapi jangan salah, mengoperasikan NEX-F3 dapat jadi lebih laun dan rumit dibandingkan kamera penuh tombol sebagaimana Olympus OM-D E-M5 atau malah Sony NEX-7, yang memakai 2 tombol tidak mempunyai tanda untuk kendalikan seluruh fungsi. Dalam memotret dengan manual atau program, Anda mesti banyak mencari ke dalam menu kecuali sudah memanfaatkan pilihan kustomisasi yang ada. Tombol kanan serta tengah di scroll wheel juga tombol di kanan bawah dapat diganti dengan bermacam parameter pemotretan yang umum dipakai; seperti ISO, eksposur, dan white balance.

Seakan menyuruh pengguna biar memotret dalam mode Auto, Sony ikut mempersembahkan mode Superior Auto, atau iA+. Mode anyar ini pada dasarnya melanjutkan lakon mode Auto sebelumnya – mengatur kecepatan shutter, ISO, dan aperture dengan otomatis – dan tambahkan beberapa opsi parameter pemotretan dengan begitu F3 dapat mengerjakan lebih banyak hal sebagaimana memakai fitur HDR di mode Auto. Yang terpenting, fitur ini bakal menjadi berkah tersendiri untuk pemula yang mau menerima hasil foto bagus tanpa mesti ribet.

Fitur yang bagus lainnya yaitu Auto Potrait Framing yang otomatis mengerjakan crop potrait terhadap gambar yang mempunyai wajah di dalamnya. Nantinya hasil foto bakal disave pada versi crop dan versi originalnya. Walaupun terdengar bagus, prakteknya betul betul tak selancar itu sebab juga bergantung ke komposisi foto aslinya sendiri. Pada scene outdoor dengan cahaya berlimpah, F3 membuahkan gambar jernih serta tajam dengan warna wow. Warna kulit juga terlihat tersaturasi baik sedangkan detil bisa dikatakan begitu akurat. Untuk pemotretan minim cahaya, noise mulai muncul pada ISO800 dan masih dapat ditolerir sampai ISO3200 tetapi apapun di atas itu tak dapat digunakan. F3 juga menyajikan perekaman video 1080p di 24 fps, upgrade signifikan atas perekaman 720p pada C3. Hasil video terlihat cerah dan mulus dengan detil yang bakal bikin puas. F3 merupak kamera NEX pertama yang tak dibekali charger eksternal. Untuk itu, Sony menyediakan USB power adapter (bervoltase 1,5A) berfitur fast USB charging yang sebelumnya diperlihatkan dalam jajaran kamera saku Cyber-shot.

Singkat kata, NEX-F3 berhasil bikin satuin elemen dari NEX-C3, 5N, dan 7 dan merubahnya sebagai sebuah kamera menarik. Walau karya foto dan videonya bisa tetap belum sempurna bagi ukuran kamera bersensor APS-C, kualitasnya jelas jauh di atas point-and-shoot. Sehingga kalau Anda tengah menemukan opsi lain upgrade dari point-and-shoot dengan pilihan lensa dan aksesoris yang bermacam, rangkaian kamera NEX Sony termasuk F3 jelas adalah diantara kandidat terbaik.


EmoticonEmoticon

loading...